Khutbah Jumat: Memuliakan Guru dan Ilmu
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ رَفَعَ شَأْنَ الْعِلْمِ وَالْعُلَمَاءِ، وَجَعَلَهُمْ وَرَثَةَ الْأَنْبِيَاءِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُوْ بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ اللِّقَاءِ. وَأَشْدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، إِمَامُ الْمُتَّقِيْنَ وَسَيِّدُ الْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، مُعَلِّمِ الْبَشَرِيَّةِ الْخَيْرَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma’asyiral Muslimin, Rahimakumullah.
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan yang telah menurunkan wahyu pertama-Nya dengan perintah “Iqra’!” (Bacalah!). Perintah yang menandakan betapa mulianya ilmu pengetahuan dalam agama ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Sang Guru terbaik sepanjang masa, Nabi Muhammad SAW, yang diutus untuk menyempurnakan akhlak dan menyebarkan ilmu.
Pada mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada seluruh jamaah, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Karena hanya dengan takwa, kita dapat meraih kemuliaan di sisi-Nya dan memperoleh keberkahan dalam setiap ilmu yang kita pelajari.
Hadirin Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,
Sejarah telah membuktikan, bangkit dan runtuhnya sebuah peradaban sangat bergantung pada bagaimana peradaban itu memandang ilmu dan para gurunya. Peradaban Islam pernah mencapai puncak kejayaannya, menjadi mercusuar dunia dalam bidang sains, kedokteran, matematika, dan filsafat, justru ketika umatnya begitu gigih mencari ilmu dan sangat memuliakan para ulama dan guru-guru mereka.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Meneladani Spirit Para Pahlawan
Allah SWT sendiri telah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Mujadilah ayat 11:
…يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ…
“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…”
Ayat ini menegaskan bahwa iman dan ilmu adalah dua sayap yang akan mengangkat seorang hamba ke derajat yang mulia, baik di dunia maupun di akhirat. Namun, ilmu tidak akan turun dari langit begitu saja. Ia harus dicari, dipelajari, dan diterima melalui perantara seorang guru. Di sinilah letak pentingnya memuliakan guru sebagai sumber keberkahan ilmu.
Ma’asyiral Muslimin, Rahimakumullah.
Ada dua pilar utama yang harus kita tegakkan kembali jika kita ingin membangun peradaban umat yang gemilang: memuliakan ilmu dan menghormati guru.
Pertama, Memuliakan Ilmu.
Memuliakan ilmu berarti menempatkannya sebagai prioritas dalam hidup kita. Rasulullah SAW bersabda:
“طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ”
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Kewajiban ini tidak terbatas pada ilmu agama saja, tetapi juga mencakup semua ilmu yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia. Menjadi dokter yang hebat, insinyur yang inovatif, ekonom yang jujur, atau petani yang modern, semuanya adalah bagian dari manifestasi menuntut ilmu yang diperintahkan agama. Namun yang terpenting, setiap ilmu harus dilandasi dengan adab dan akhlak. Ilmu tanpa adab ibarat api yang membakar, ia bisa merusak pemiliknya dan lingkungannya.
Kedua, Menghormati dan Memuliakan Guru.
Ilmu tidak akan berkah jika kita tidak menghormati orang yang menyampaikannya. Guru, baik guru di sekolah, guru ngaji, dosen, kiai, atau siapa pun yang telah mengajarkan kita kebaikan, memiliki kedudukan yang sangat terhormat.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:
“أَنَا عَبْدُ مَنْ عَلَّمَنِيْ حَرْفًا وَاحِدًا، إِنْ شَاءَ بَاعَ، وَإِنْ شَاءَ أَعْتَقَ، وَإِنْ شَاءَ اسْتَرَقَّ”
“Aku adalah hamba bagi siapa saja yang telah mengajariku satu huruf. Jika ia mau, ia boleh menjualku. Jika ia mau, ia boleh memerdekakanku. Dan jika ia mau, ia boleh tetap menjadikanku sebagai budaknya.”
Ungkapan ini menunjukkan betapa dalamnya rasa hormat seorang murid kepada gurunya. Bagaimana cara kita memuliakan guru di zaman sekarang?
- Dengan bersikap tawadhu (rendah hati) di hadapan mereka.
- Dengan mendengarkan nasihat mereka dengan saksama.
- Dengan tidak memotong pembicaraan mereka.
- Dengan mendoakan kebaikan untuk mereka, baik di hadapan maupun di belakang mereka.
- Dengan mengenang dan menghargai jasa-jasa mereka meskipun kita sudah tidak lagi belajar dari mereka.
Hadirin yang Berbahagia,
Mari kita lihat kondisi kita hari ini. Ketika adab kepada guru mulai terkikis, ketika ilmu hanya dianggap sebagai sarana mencari ijazah dan pekerjaan, maka saat itulah keberkahan ilmu mulai hilang. Akibatnya, lahirlah generasi yang pintar secara akademik, tetapi kering secara spiritual dan miskin adab.
Untuk membangun kembali peradaban umat yang kuat, mari kita mulai dari diri kita dan keluarga kita. Ajarkan anak-anak kita untuk mencintai ilmu dan menghormati guru mereka. Jadikan rumah kita sebagai tempat yang mencintai buku dan diskusi ilmu. Dukunglah para guru dan lembaga pendidikan agar mereka dapat menjalankan tugas mulianya dengan baik. Karena di pundak para gurulah masa depan peradaban umat ini dipertaruhkan.
Semoga Allah SWT menjadikan kita dan generasi penerus kita sebagai para pencari ilmu yang ikhlas dan para murid yang senantiasa memuliakan guru-gurunya. Amin ya Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ. أَشْدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْدُ أَنَّ سَيِّنَا مُحَمَّا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّنَا مُحَمَّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُبِّحَةِ بِقُسِهِ. فَقَالَ تَعَالَى:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّنَا مُحَمَّ وَعَلَى آلِ سَيِّنَا مُحَمَّ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّنَا إِبْرَيْمَ، وَارِكْ عَلَى سَيِّنَا مُحَمَّ وَعَلَى آلِ سَيِّdِنَا مُحَمَّ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّنَا إِبْرَاهِيْمَ وَلَى آلِ سَيِّنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّهُمَّ اغْرْ لِلْمُلِمِيْنَ وَالْمُلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِمَشَايِخِنَا وَلِمَنْ عَلَّمَنَا وَارْحَمْهُمْ، وَأَكْرِمْهُمْ بِرِضْوَانِكَ الْعَظِيْمِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.
Penulis: M Khotib




